Ingin Bayi Tumbuh Sehat dan Cerdas? ASI Eksklusif 6 Bulan Kuncinya
Hasbi Abe | 03 Juli 2024 | Dibaca 24 kali |

Manfaat ASI Eksklusif

Pemerintah Indonesia mencanangkan program wajib ASI eksklusif 6 bulan sebagai upaya mengurangi tingkat kematian bayi. ASI eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja kepada bayi tanpa penambahan makanan dan minuman lain, kecuali obat dan vitamin dalam bentuk sirup jika dibutuhkan. 

ASI (air susu ibu) adalah makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung semua nutrisi yang dibutuhkannya untuk tumbuh kembang dengan sehat. Jika diberikan air putih atau cairan lainnya, bayi akan mudah merasa kenyang sehingga tak mau menyusu lagi. 

Manfaat ASI Eksklusif pada Bayi

Setelah lahir bayi mengalami perkembangan fisik dan mental yang sangat pesat. Dukung perkembangan optimalnya dengan hanya memberikan ASI hingga usia 6 bulan untuk mendapatkan banyak manfaat berikut ini

  1. Membuat Bayi Lebih Sehat dan Cerdas

    ASI kaya akan kandungan asam lemak yang dapat mendukung perkembangan fisik bayi secara optimal, terutama otak sehingga membuatnya lebih cerdas. 
  1. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

    Di dalam ASI terkandung antibodi dari ibu, sehingga bermanfaat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil dan mencegahnya dari terkena penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga, meningitis, dan lain sebagainya.

    Sistem kekebalan tubuh yang kuat juga berperan dalam mengurangi risiko timbulnya alergi, karena alergi merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh saat mengalami kontak langsung dengan zat tertentu.
  1. Menjaga Berat Badan Ideal

    ASI dapat mengendalikan hormon leptin yang berfungsi mengontrol nafsu makan dan metabolisme lemak pada tubuh bayi, sehingga dapat membantu menjaga berat badan bayi tetap ideal, serta mencegah stunting.

    ASI eksklusif juga mendukung pertumbuhan bakteri sehat dalam pencernaan, yang berfungsi meningkatkan metabolisme tubuh dan kesehatan pencernaan bayi.
  1. Mencegah Terjadinya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

    Manfaat lain dari pemberian ASI eksklusif 6 bulan adalah mengurangi risiko terjadinya sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Menyusui bayi saat ia lapar dan di sela-sela waktu tidurnya dapat melindunginya dari risiko mengalami SIDS. 
  1. Membuat Ikatan Ibu Anak Semakin Kuat

    Kontak langsung dengan ibu saat menyusu, seperti sentuhan dengan kulit, merasakan kehangatan tubuh ibu, dan tatapan mata dapat membangun keintiman antara Ibu dengan bayinya. 

Risiko jika Bayi Tidak Diberi ASI Eksklusif

Apa yang terjadi pada bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif? Berikut adalah beberapa risiko yang dihadapi, jika bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif.

1. Rentan terhadap Masalah Gizi

Pertumbuhan fisik bayi akan terhambat karena kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkannya, sehingga meningkatkan risiko kekurangan gizi dan lambat laun stunting.

2. Rentan terhadap Infeksi dan Penyakit Kronis

Daya tahan tubuh yang lebih lemah membuat bayi rentan terhadap berbagai infeksi, seperti infeksi pencernaan dan saluran pernapasan, serta penyakit kronis yang dapat berdampak kematian. Beberapa penyakit kronis yang dapat dialami di kemudian hari antara lain diabetes, leukemia, dan penyakit yang diakibatkan oleh obesitas.

3. Gangguan Emosi

Kurangnya jalinan ikatan antara ibu dan bayi berpotensi mengakibatkan anak mudah stress, depresi, cemas, dan mengalami gangguan emosional lainnya saat besar nanti.

Kenali Perilaku Menyusu Bayi

Saat baru lahir, bayi diberikan inisiasi menyusu dini (IMD) melalui kontak kulit ke kulit dengan ibu dalam waktu 1 jam setelah dilahirkan. Setelah menyusu pada jam pertama, bayi biasanya akan tidur panjang dan menyusu lagi jika lapar.  

Frekuensi bayi menyusu meningkat sejalan dengan semakin banyaknya ASI yang keluar dan bertambahnya ukuran lambung. Berikut adalah perilaku menyusu bayi baru lahir.

Hari Pertama

  • Ukuran dan volume lambung bayi sebesar kelereng. 

  • Bayi menyusu sebanyak 5-12 kali dalam 24 jam pertama. Namun ini juga tergantung pada bayi, kontak kulit ke kulit, dan rawat gabung bersama ibunya, yaitu kondisi dimana ibu dan bayi tidur dalam satu ruangan yang sama.

Hari ke 2-3

  • Ukuran dan volume lambung bayi sebesar bola pingpong.

  • Frekuensi menyusu meningkat menjadi 10-12 kali, tapi masih belum stabil.

Satu Minggu

  • Ukuran dan volume lambung bayi sebesar telur ayam.

  • Frekuensi menyusu rata-rata sekitar 8 kali dalam 24 jam.

  • Interval menyusu mungkin lebih lama, karena kapasitas lambung bertambah.

Satu bulan

  • Ukuran dan volume lambung bayi sebesar telur bebek.

  • Frekuensi menyusu meningkat menjadi 80-150 ml. 

Selama menyusui, ibu harus selalu berada di dekat bayi, agar dapat merespon saat bayi menunjukkan tanda lapar, dan mulai lebih banyak bergerak, memutar kepala, mengisap jari dan mengecap mulut. Namun, seringkali ibu merasa jika bayinya menangis tandanya ia lapar dan memberinya makanan lain selain ASI. Padahal, menangis tak selalu berarti bayi lapar, tapi mungkin ada faktor lain yang membuatnya tidak nyaman.  

Berikan ASI dengan Cara yang Benar

Saat menyusui, perhatikan hal-hal berikut ini, agar proses menyusu maksimal sampai bayi merasa kenyang. 

  • Susui bayi sesering mungkin atau setiap kali bayi menginginkannya, 8-12 kali sehari atau lebih.

  • Bayi menyusu normalnya antara 20-30 menit untuk dua sisi payudara.

  • Bangunkan bayi jika tidur lebih dari 3 jam, lalu susui.

  • Susui sampai payudara terasa kosong, lalu pindah ke payudara lainnya.

  • Jika bayi sudah kenyang, tapi payudara masih terasa penuh/kencang, artinya payudara perlu diperah dan ASI disimpan. Tujuannya, selain mencegah mastitis atau peradangan pada jaringan payudara, juga untuk menjaga pasokan ASI.

  • Buat bayi dalam kondisi menyenangkan, nyaman, dan penuh perhatian saat disusui. 

Selain cara menyusui, posisi dan pelekatan yang benar juga penting untuk memaksimalkan pemberian ASI pada bayi.

Posisi Menyusui

  • Gendong bayi dalam posisi kepala dan badan membentuk garis lurus.

  • Letakkan wajah bayi menghadap payudara, dan hidungnya berhadapan dengan puting susu.

  • Pastikan ibu mendekap badan bayi secara utuh dan dekatkan badannya ke tubuh ibu.

Pelekatan

  • Dekatkan bayi ke payudara dengan mulut terbuka lebar.

  • Pastikan dagu bayi menyentuh payudara.

  • Bagian aerola di atas lebih banyak terlihat dibandingkan bagian bawah mulut bayi.

  • Pastikan bibir bawah bayi memutar keluar (dower). 

Cara Memerah dan Menyimpan ASI

Jika Anda harus memerah dan menyimpan ASI, berikut ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjaga keamanan dan kualitas ASI. 

  1. Sebelum memerah ASI, cuci tangan terlebih dahulu dengan sabun dan air mengalir. 

  1. Simpan ASI yang baru diperah dalam berbagai wadah tergantung lama penyimpanannya.

  • Suhu ruangan: 27-32 derajat, maksimal 4 jam, di bawah 25 derajat, maksimal 6-8 jam. 

  • Cooler bag atau tas pendingin: 15 derajat, maksimal 24 jam.

  • Kulkas: kurang dari 4 derajat, 48-72 jam atau 2-3 hari.

  • Freezer pada lemari es 1 pintu: -15 sampai 0 derajat, 2 minggu.

  • Freezer pada lemari es 2 pintu: -20 sampai -18 derajat, 3-6 bulan. 

  1. Hindari perubahan suhu yang terlalu ekstrim pada ASI perah. 

  1. Sebelum ASI perah diberikan kepada bayi, rendam dalam wadah berisi air hangat. Gunakan gelas atau mangkuk kaca/keramik dan hindari menggunakan bahan dari plastik atau melamin. 

Peran ibu saja tidak cukup. Dibutuhkan dukungan suami dan keluarga dalam mewujudkan keberhasilan program ASI eksklusif 6 bulan. Dengan demikian, turunnya angka kematian bayi akan segera menjadi kenyataan.

BAGIKAN :